SENJA
HITAM
Senandung
nada-nada slow dari bibir Rindu mengalir lembut mengiringi perjalanannya
pulang dari kantor perusahaan swasta tempat ia bekerja menuju rumah. Begitu
yang dilakukannya setiap senja pada hari kerja di atas sebuah motor bebek yang
dikendarainya.
Hari ini cuaca
agak kurang bersahabat, langit berwarna kelabu gelap, langit terlihat seakan
hendak memuntahkan air bah ke permukaan bumi yang telah beberapa hari
belakangan sangat gersang karena saat telah mulai memasuki musim kemarau. Rindu
mengendarai motornya agak lambat dari biasanya karena kebetulan lampu motornya
putus dan jalan terlihat agak kabur di matanya.
Di tengah
perjalanannya pulang hari ini, tepat di jalan menjelang SMA yang biasa ia
lewati, Rindu tertegun sejenak dan mengurangi laju bebeknya ketika lewat dan
melihat seorang siswi berseragam SMA berjalan sendiri dengan wajah kusut
seperti menahan segunung masalah di benaknya. Rindu heran kenapa pada jam
segini masih ada seorang siswi berjalan sendiri padahal sudah sangat senja dan
Rindu pun tahu bahwa di SMA ini tidak ada lagi siswa yang sekolah shif siang dan ketika melewati sekolah pun ia
melihat sekolah sudah sepi.
Rindu
bertanya-tanya sendiri dalam hatinya sambil tetap mengendarai motor bebeknya
dan terus melengok pada kaca spion ingin memastikan apakah wajah siswi itu ia
kenal. Namun, ternyata ia merasa tidak begitu kenal dengan wajah siswi itu. Ia
awalnya berniat berhenti dan ingin menawarkan tumpangan. Namun dalam
lamunannya, motor tetap ia kendarai dan terus melaju menjauh dari siswi itu. Tiba-tiba
pikirannya buyar setelah matanya silau terkena cahaya lampu dan kaget dengan
bunyi klakson dari mobil yang datang dari arah yang berlawanan. Akhirnya ia fokus
kembali mengendarai motornya tanpa melengok ke kaca spion lagi dan menambah
kecepatan untuk mengejarkan shalat maghrib di rumah.
Di rumahnya
pikiran Rindu masih tertuju pada siswi yang berjalan sendirian senja tadi.
Sekilas terbersit sesal dalam hatinya, kenapa ia tidak berhenti tadi dan
kemudian menawarkan tumpangan pulang? Menanyakan apa yang terjadi? Kenapa ia
sampai pulang begitu senja?Kenapa ia sendirian?Ada acara apa di sekolah? Bagaimana
jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada siswi itu?, ia kan perempuan!
Tuhan…, semoga saja tak terjadi apa-apa pada siswi itu. Semua pertanyaan
itu berbaur sambung-menyambung dalam pikirannya.
“Ndu, kenapa kok
bengong?!”, suara Rinda, saudara kembar Rindu menyadarkannya dari lamunan
tentang siswi tadi.
Rindu
menceritakan apa yang dipikirkannya pada Rinda. “Sudah…, lupain aja!,
yang begituan aja kok dipikirin, paling-paling anak tu lagi ada
masalah sama cowoknya, biasa….ABG...”, sahut Rinda tanpa banyak pikir.
Rindu justru tidak menghiraukan perkataan saudara satu-satunya itu. Ia tahu
betul karakter saudaranya yang sangat jauh berbeda dengannya. Rinda memiliki
karakter yang supel dan segalanya menjadi easy going dalm hidupnya,
sedangkan Rindu memiliki karakter yang serba teliti, dan memiliki rasa cemas
dan ingin tahu yang tinggi.
***
Hari ini cuaca
lumayan cerah, seperti biasa Rindu telah bersiap-siap untuk berangkat menuju
tempat kerja. Kali ini ia berangkat melewati jalan lain karena ia harus singgah
di pasar membeli perlengkapan yang tak sempat dibelinya kemarin, artinya ia
tidak melewati SMA yang biasanya ia lewati.
Setibanya di
kantor, Rindu mendapat kabar dari rekan kerjanya bahwa hari ini kantor ditutup
lebih cepat sebelum jadwal tutup biasanya karena mereka semua harus pergi
melayat ke rumah Direktur Utama kantornya. Ada kemalangan terjadi pada
keluarganya. “kemalangan apa Al?”, Tanya Rindu pada rekan kerjanya, Alya. “gak
tau juga, kabarnya ada yang meninggal, gak tau juga siapa, yang
penting ikut aja dulu, yuk…!”. Rindu celingukan, tetapi tetap mengikuti
langkah Alya.
Di rumah duka,
Rindu menanyakan, ternyata yang meninggal dunia adalah anak tunggal
Direkturnya. “Memang bagaimana ceritanya Buk?”, Tanya Rindu pada salah satu
warga yang melayat.
“Kabarnya sih
karena masalah dengan pacar gitu Nak! Ceritanya, anaknya Bapak pulang
telat. Biasanya jam 4 udah nyampe
rumah, tapi kemaren tu udah jam 9 belum juga pulang, akhirnya si
Bapak minta tolong petugas keamanan buat nyariin. Trus jam 11-an
ketemu anaknya udah tewas terbunuh di jalan dekat sekolahnya. Dan
sidik jari pelaku udah ada di tangan polisi tapi pelakunya masih dalam
buronan polisi”.
Rindu mangut-mangut
mengekspresikan wajah prihatin atas kejadian itu.
“Ndu, mangut-mangut
aja, aneh tau.. Eh ya, kabarnya anak tu sekolahnya di SMA tempat
kamu lewat tiap hari. Apa gak ngeliat ada garis polisi atau tanda-tanda
sejenisnya gitu?”, Tanya Alya.
Rindu
tersentak mendengar pertanyaan Alya. Tanpa pikir panjang ia langsung melihat
wajah jenazah, perlahan ia buka kain kafan penutup wajah jenazah itu.
Rindu merasakan sekujur tubuhnya
gemetar. Sesalan demi sesalan bertumpuk memenuhi benaknya, kenapa ia mesti
menunda niat baiknya kemarin. Senja kemarin menjadi senja terburuk, senja hitam
yang penuh penyesalan bagi Rindu. Kenapa, kenapa, dan kenapa???

