Senin, 29 Desember 2014

SENJA HITAM

Senandung nada-nada slow dari bibir Rindu mengalir lembut mengiringi perjalanannya pulang dari kantor perusahaan swasta tempat ia bekerja menuju rumah. Begitu yang dilakukannya setiap senja pada hari kerja di atas sebuah motor bebek yang dikendarainya.
Hari ini cuaca agak kurang bersahabat, langit berwarna kelabu gelap, langit terlihat seakan hendak memuntahkan air bah ke permukaan bumi yang telah beberapa hari belakangan sangat gersang karena saat telah mulai memasuki musim kemarau. Rindu mengendarai motornya agak lambat dari biasanya karena kebetulan lampu motornya putus dan jalan terlihat agak kabur di matanya.
Di tengah perjalanannya pulang hari ini, tepat di jalan menjelang SMA yang biasa ia lewati, Rindu tertegun sejenak dan mengurangi laju bebeknya ketika lewat dan melihat seorang siswi berseragam SMA berjalan sendiri dengan wajah kusut seperti menahan segunung masalah di benaknya. Rindu heran kenapa pada jam segini masih ada seorang siswi berjalan sendiri padahal sudah sangat senja dan Rindu pun tahu bahwa di SMA ini tidak ada lagi siswa yang sekolah shif  siang dan ketika melewati sekolah pun ia melihat sekolah sudah sepi.
Rindu bertanya-tanya sendiri dalam hatinya sambil tetap mengendarai motor bebeknya dan terus melengok pada kaca spion ingin memastikan apakah wajah siswi itu ia kenal. Namun, ternyata ia merasa tidak begitu kenal dengan wajah siswi itu. Ia awalnya berniat berhenti dan ingin menawarkan tumpangan. Namun dalam lamunannya, motor tetap ia kendarai dan terus melaju menjauh dari siswi itu. Tiba-tiba pikirannya buyar setelah matanya silau terkena cahaya lampu dan kaget dengan bunyi klakson dari mobil yang datang dari arah yang berlawanan. Akhirnya ia fokus kembali mengendarai motornya tanpa melengok ke kaca spion lagi dan menambah kecepatan untuk mengejarkan shalat maghrib di rumah.
Di rumahnya pikiran Rindu masih tertuju pada siswi yang berjalan sendirian senja tadi. Sekilas terbersit sesal dalam hatinya, kenapa ia tidak berhenti tadi dan kemudian menawarkan tumpangan pulang? Menanyakan apa yang terjadi? Kenapa ia sampai pulang begitu senja?Kenapa ia sendirian?Ada acara apa di sekolah? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada siswi itu?, ia kan perempuan! Tuhan…, semoga saja tak terjadi apa-apa pada siswi itu. Semua pertanyaan itu berbaur sambung-menyambung dalam pikirannya.
“Ndu, kenapa kok bengong?!”, suara Rinda, saudara kembar Rindu menyadarkannya dari lamunan tentang siswi tadi.
Rindu menceritakan apa yang dipikirkannya pada Rinda. “Sudah…, lupain aja!, yang begituan aja kok dipikirin, paling-paling anak tu lagi ada masalah sama cowoknya, biasa….ABG...”, sahut Rinda tanpa banyak pikir. Rindu justru tidak menghiraukan perkataan saudara satu-satunya itu. Ia tahu betul karakter saudaranya yang sangat jauh berbeda dengannya. Rinda memiliki karakter yang supel dan segalanya menjadi easy going dalm hidupnya, sedangkan Rindu memiliki karakter yang serba teliti, dan memiliki rasa cemas dan ingin tahu yang tinggi.

***
Hari ini cuaca lumayan cerah, seperti biasa Rindu telah bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat kerja. Kali ini ia berangkat melewati jalan lain karena ia harus singgah di pasar membeli perlengkapan yang tak sempat dibelinya kemarin, artinya ia tidak melewati SMA yang biasanya ia lewati.
Setibanya di kantor, Rindu mendapat kabar dari rekan kerjanya bahwa hari ini kantor ditutup lebih cepat sebelum jadwal tutup biasanya karena mereka semua harus pergi melayat ke rumah Direktur Utama kantornya. Ada kemalangan terjadi pada keluarganya. “kemalangan apa Al?”, Tanya Rindu pada rekan kerjanya, Alya. “gak tau juga, kabarnya ada yang meninggal, gak tau juga siapa, yang penting ikut aja dulu, yuk…!”. Rindu celingukan, tetapi tetap mengikuti langkah Alya.
Di rumah duka, Rindu menanyakan, ternyata yang meninggal dunia adalah anak tunggal Direkturnya. “Memang bagaimana ceritanya Buk?”, Tanya Rindu pada salah satu warga yang melayat.
“Kabarnya sih karena masalah dengan pacar gitu Nak! Ceritanya, anaknya Bapak pulang telat. Biasanya jam 4 udah  nyampe rumah, tapi kemaren tu udah jam 9 belum juga pulang, akhirnya si Bapak minta tolong petugas keamanan buat nyariin. Trus jam 11-an ketemu anaknya udah tewas terbunuh di jalan dekat sekolahnya. Dan sidik jari pelaku udah ada di tangan polisi tapi pelakunya masih dalam buronan polisi”.
Rindu mangut-mangut mengekspresikan wajah prihatin atas kejadian itu.
“Ndu, mangut-mangut aja, aneh tau.. Eh ya, kabarnya anak tu sekolahnya di SMA tempat kamu lewat tiap hari. Apa gak ngeliat ada garis polisi atau tanda-tanda sejenisnya gitu?”, Tanya Alya.
Rindu tersentak mendengar pertanyaan Alya. Tanpa pikir panjang ia langsung melihat wajah jenazah, perlahan ia buka kain kafan penutup wajah jenazah itu.
Rindu merasakan sekujur tubuhnya gemetar. Sesalan demi sesalan bertumpuk memenuhi benaknya, kenapa ia mesti menunda niat baiknya kemarin. Senja kemarin menjadi senja terburuk, senja hitam yang penuh penyesalan bagi Rindu. Kenapa, kenapa, dan kenapa???

Rabu, 17 Desember 2014



ADA APA ANTARA PEREMPUAN DAN GUCI???

Ada apa antara perempuan dan guci? Apa ini tentang karakter perempuan yang suka guci sebagai barang antik? Sepertinya banyak juga lelaki yang suka guci! Atau pembahasan ini tentang guci dan perempua sebagai sesuatu yang unik? Mungkin juga sih! Atau tentang rahasia berharga antara keduanya? Rahasia apa ya? Nah, mari kita mulai dengan dengan sebuah kisah nyata tentang perempuan!
Suatu ketika, di pinggir jalan terdengan suara, “Suit….suiiit…., hai cewek…., mau kemana tu?!”. Begitulah kalimat yang terlontar dari sebagian lelaki yang melihat perempuan dengan pakaian ketat ketika lewat di depannya.
“Assalamu’alaikum…..”, sebaliknya ini adalah ungkapan yang terlontar dari mulut sebagian besar lelaki terhadap seorang perempuan yang berpakaian sopan dan tidak ketat. Meskipun tidak bisa dipastikan  apakah ungkapan salam itu tulus diucapkan atau tidak, yang jelas ungkapan tersebut bernada positif. Tidak sama dengan contoh peristiwa yang pertama.
Dari kisah nyata inilah tersirat sebuah rahasia berharga. Rahasia berharga tersebut adalah mengenai aurat. Dari contoh di atas terlihat jelas bahwa perempuan yang menutup aurat akan lebih beruntung daripada yang tidak menutup aurat baik secara jasmaniah maupun rohaniah. Secara jasmaniah, keuntungan menutup aurat yaitu terlindung dari ancaman bahaya orang-orang yang berhasrat jahat, terhindar dari kata-kata yang tidak enak didengar, dan sebagainya. Di sisi lain, secara rohaniah keuntungan menutup aurat berupa selalu mendapat salam dan do’a keselamatan melalui orang yang memberi ucapan salam, dan secara tidak langsung orang yang menutup auratpun akan merasa nyaman serta telah menjalankan perintah agama.
Jika dilihat lebih jauh lagi, pada saat sekarang ini banyak yang memahami bahwa menutup aurat sudah sama halnya dengan memakai kerudung. Sedangkan makna sebenarnya adalah menutup dengan benar-benar menutup sehingga tidak nampak lagi indahnya lekuk tubuh atau body seorang perempuan. Maka dari itu, untuk memperjelas hal tersebut, berikut sedikit uraian mengenai beda menutup dengan membungkus.
Sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nur: 31, jelas sekali bahwa perempuan diwajibkan menutup auratnya bukan membungkus. Menutup sangat jauh berbeda maknanya dengan membungkus.
Lalu, apa kaitannya dengan guci ya?
Kaitannya, perempuan, menyukai guci, dan memiliki karakter unik seperti guci, persoalan menutup aurat tersebut untuk lebih mudah dipahami dapat dianalogikan seperti sebuah guci. Berikut analoginya.
Seperti sehelai kain yang dilingkupkan di atas sebuah guci, jika kainnya tebal dan rapat maka mata yang memandag tidak akan dapat menerka apa benda yang terdapat di bawah lingkupan kain tersebut. Namun, sebaliknya jika sehelai kain transparan dilingkupi di atas sebuah guci atau kain tebal dan rapat dibungkuskan dengan ketat pada guci tersebut, maka semua orang yang melihatnya akan dapat menerka bahwa benda di dalam kain tersebut adalah sebuah guci karena tampak jelas bentuknya.
Hal ini tak ubahnya dengan perempuan, jika perempuan berpakaian menutup aurat maka ia akan terjaga karena lekukan indah tubuhnya tidak tampak sehingga tidak menarik hasrat lawan jenisnya. Sebaliknya, perempuan yang hanya membungkus aurat –berpakaian ketat dan atau transparan, maka sesungguhnya ia terancam akan bahaya besar karena lawan jenis yang melihatnya akan terkesima dan bahkan bisa saja bangkit birahinya dan berniat senonoh.
Perempuan juga sangat dikenal sebagai perhiasan dunia, maka jika dianalogikan dengan sebuah perhiasan seperti serangkaian accessories, yang lebih berharga adalah accessories yang berada di dalam etalase tertutup sebuah toko. Sementara yag dijual di emperan jalan adalah accessories yang harganya sangat murah dan mudah dijamahi oleh siapapun yang lalu lalang di depannya. Jadi, begitulah teramat sangat pentingnya menutup aurat bagi perempuan.      
Apalagi mengenai kerudung, banyak perempuan sekarang yang memakai kerudung hanya sebagai model bukan untuk menutup aurat. Mereka memakai kerudung yang dililitkan ke leher dan kepala sehingga lekukan tubuh yang indah atau aurat  sebagai perhiasan dirinya tidak tertutup. Atau, kalaupun ada yang berkerudung dengan menjulurkan kerudungnya ke dada namun kerudungnya itu transparan sehingga tetap menampakkan auratnya terutama bagian leher dan pundak.
Ada sebagian perempuan yang mengatakan bahwa memakai kerudung dua lapis untuk menutup aurat adalah tindakan mubazir –padahal kerudung itu transparan jika dipakai satu lapis saja, sementara mereka memakai kerudung transparan tersebut hanya sati lapis dan auratnya sudah pasti tidak tertutup. Maka, mari kita pikirkan manakah yang lebih mubazir?
Nah, itulah rahasia berharga tang tersirat antara perempuan dan guci. Semoga bermanfaat. Amiin!